Koto Gadang; Tapak Seni Rupa Indonsia Catatan Pameran Arsip 99 Tahun Oesman Effendi

_mg_3723

Menutup akhir tahun 2018, Ladang Rupa mengadakan kegiatan pameran arsip yang bertajuk “Pameran Arsip 99 tahun Oesman Effendi” berlokasi di Balai Budaya Oesman Effendi (OE) Koto Gadang bertepatan persis dikampung halamannya. Kegiatan pameran ini diselenggarakan pada 22-29 Desember 2018 yang sebelumnya juga pernah  diselenggarakan di galeri Ibenzani Usman FBS Universitas Negeri Padang sebagai tajuk aktivasi wacana kesenian dan tokoh minang dalam ranah akademik, pameran ini bertujuan untuk menggali lagi pemikiran Oesman Effendi serta tendensi pemikiran kini dalam konteks kontemporer dan juga sebagai kerja sosial terkhusus sebagai pembelajaran bagi kami di forum Ladang Rupa dalam membingkai wacana dan dikeluarkan dalam bentuk output pameran yang dikemas dalam arsip yang memuat wacana kesejarahan, sosial, budaya dan lainnya. Pameran arsip yang dikuratori oleh Hidayatul Azmi kali ini memamerkan arsip-arsip seputar perjalanan Oesman Effendi berupa tulisan-tulisan seputar OE yang didapat dari lembaga arsip yang mengumpulkan rekam jejak seputar OE seperti Indonesian Visual Art Archieve Database (IVAA), dan juga kita juga bisa mendengarkan rekaman ceramah OE, beberapa lukisan, sketsa, dan koleksi piringan hitam OE yang masih tersimpan di rumah keluarganya di Koto Gadang. Seperti yang diutarakan Ami dalam catatan kuratorialnya, nama OE ramai diberitakan dalam surat kabar sejak tahun 70-an karena pernyataan kontroversialnya “seni lukis Indonesia tidak ada”. Dalam catatannya, Ami juga menuliskan bagaimana  OE mereseprentasikan wacana modernitas dimasanya, wacana itu tampak hadir dalam tulisan OE sejak ia memutuskan untuk masuk dalam dunia seni lukis. Menurut Ami, dalam konteks saat ini menjadi penting memahami semangat OE menyingkap dasar-dasar yang mana seni lukis Indonesia. Gedung putih atau yang dinamai dengan Balai Budaya Oesman Effendi merupakan bangunan yang didirikan oleh OE saat ia memutuskan pulang kampung dan mencoba membangun sebuah ruang untuk aktifitas kesenian dan kebudayaan di nagari kelahirannya sendiri sekitar tahun 1972. Gedung yang masih sangat kokoh ini memiliki dua lantai dengan banyak jendela kaca sehingga memperlihatkan bagaimana OE bersama warga memanfaatkan ruang itu dahulunya sebagai tempat pelatihan membatik, melukis, bermusik dan kegiatan kesenian lainnya.

 

Koto Gadang sendiri merupakan nagari yang berada diwilayah administratif Kabupaten Agam, namun secara geografis nagari ini lebih dekat dengan Kota Bukittinggi dan hanya dibatasi oleh Ngarai Sianok. Nagari pengrajin perak ini juga memiliki kebudayaan pertanian yang kuat, terlihat dari sawah warga Koto Gadang yang sangat luas, di daerah ini juga t banyak melahirkan banyak tokoh-tokoh penting seperti Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, Rohana Kudus, dan juga Oesman Effendi sebagai pelukis berpengaruh di indonesia.

Pameran arsip ini dibuka oleh Faris selaku ketua pelaksana, bapak Harmen sebagai perwakilan dari keluarga Oesman Effendi, dan Hidayatul Azmi selaku kurator. Pembukaan pameran juga dimeriahkan oleh pertunjukan tabua tasa oleh Saraso, dan performance art oleh Komunitas Sarueh dengan tajuk “Keakuanku”, dan pembacaan essay karya Rusli Marzuki Saria seorang penulis senior oleh Emil Marzam.

kegiatan diskusi diadakan pada keesokan harinya dengan judul “OE Menumbuhkan Seni Dari Kampung”. Diskusi tersebut menghadirkan Ibrahim “Boim” merupakan seorang pengamat seni rupa dan penulis, juga menghadirkan Syhrial Yayan yaitu seorang pelukis senior yang aktif berkarya sampai saat ini. Diskusi ini membahas bagaimana OE bergejolak dimasanya, hal ini terkait dengan lokalitas berkesenian yang ingin dibangun OE dan dimulai dari lokalitas budaya yang beragam. Dalam diskusi kali ini jga membahas tentang bagaimana aktivasi gedung Balai Budaya yang dibangun Oesman Effendi yang sempat vakum beberapa tahun dikarenakan kurangnya tenaga pengurus.

Selain diskusi, juga dilaksanakan kegiatan bincang-bincang seputar Koto Gadang bersama pak Dasril dan Harmen Moezahar dan dilanjutkan dengan sketsa bersama, Koto Gadang tentu menjadi tempat yang nyaman untuk melakukan aktifitas kesenian seperti menggambar bersama karena daerah yang tenang, sejuk, dan memaparkan keindahan alam pedesaan serta realitas sosial penduduknya. Kegiatan ini diikuti oleh teman komunitas dalam dan luar daerah yang menyempatkan hadir pada pameran yang berlangsung selama satu pekan.

Pameran arsip ini juga diselingi dengan kegiatan Bioskop Taman dengan menayangkan film “Marah Di Bumi Lambu” produksi Forum Lenteng Jakarta. Film ini bererita tentang pengorbanan dan tragedi yang terjadi dalam upaya petani mempertahankan wilayahnya dari izin pertambangan yang diberikan pemerintah lokal. Filem dokumenter tersebut memperlihatkan cara arsip yang dimiliki warga bisa bekerja mengkonstruksi rentetan kejadian yang berujung pada pelanggaran HAM di daerah Lambu tersebut ditambah dengan review kejadian dan wawancara dengan masyarakat lokal, dan juga sebagai bukti sejarah dan berbagai tragedi yang terjadi di daerah mereka.

whatsapp image 2018-12-28 at 22.17.27

Malam penutupan pameran di isi dengan penampilan Wanita Ladang yang membacakan puisi dan musik, juga penampilan dari Rifki yang pertama kali membaca puisi dan menyanyikan lagu tentang kenangan, serta penampilan Lalang yang syahdu dan dirindukan. Diakhiri dengan, menikmati musik-musik pilihan dari Tiba-Tiba Disko yang membuat tubuh bergerak mengikuti irama musik. Pameran Arsip 99 Tahun oesman Effendi merupakan pameran arsip pertama di Sumatera Barat yang menampilkan arsip tokoh seni rupa Oesman Effendi. pameran yang diselenggarakan kali ini salah satu tujuannya untuk mengingat kembali tokoh penting Minangkabau beserta gagasannya khususnya dalam dunia seni rupa.

Iklan

CATATAN WORKSHOP FERMENTASI BUAH “CARA KREATIF DALAM MENGOLAH BUAH MENJADI MINUMAN”

 

whatsapp image 2019-01-03 at 23.08.35

Rabu, 02 Januari 2019 yang lalu Forum Studi Ladang Rupa mengadakan kegiatan dalam sebuah program “Kelas Lasuah” (Kelas Asik), yaitu sebuah kelas dalam upaya pembelajaran bersama ataupun mandiri dalam bentuk lokakarya maupun workshop dengan topik-topik terkini. Pemateri yang dihadirkan bernama Azhar mahasiswa jurusan Seni Murni Universitas Brawijaya Kota Malang, Jawa Timur, ia juga aktif berkegiatan di komunitas  Taman Langit, sebuah ruang kolektif seni rupa di kota Malang.

Bermula bercerita mengenai buah-buahan khas yang ada di daerah masing-masing, dan timbul sebuah wacana untuk mengolah buah menjadi fermentasi dalam bentuk workshop, dalam sejarah yang disampaiaknnya dalam materi workshop, bahwa fermentasi  buah merupakan salah satu cara pengawetan bahan pangan yang sedang banjir atau banyak pada musimnya, seperti halnya dalam fermentesi anggur di Georgia di tahun 6000 SM, selain dalam kegiatan berkeseniannya dan membangun jejaring Azhar pun aktif menekuni ilmu mikrobiologi dalam mengolah buah-buahan menjadi minuman fermentasi yang segar, bergizi dan tahan lama yang dipelajari secara kelompok maupun otodidak di kotanya.

whatsapp image 2019-01-03 at 23.09.14
Azhar menjabarkan sejarah hingga proses workshop fermentasi buah

Fermentasi merupakan hasil dari olahan bakteri, ragi dan jamur yang nanti akan menggubah karbohidrat menjadi etanol dan karbondioksida atau asam amino organik. Di Indonesia sendiri banyak makanan atau minuman yang sering kita konsumsi tampa kita sadari adalah hasil dari proses fermentasi, contohnya seperti tahu, tempe, tapai, kecap, yogurt, dan lainnya, Indonesia sebagai negara agraris yang sangat berlimpah hasil dari sumber daya alam salah satunya buah – buahan merupakan potensi terbesar yang kita miliki, hal ini tercermin dari berbagai macamnya buah buahan tropis seperti apel, sirsak, mangga, salak, jeruk, pisang, nanas dan lainnya, yang sangat memungkinkan apabila kita bisa mengolahnya menjadi minuman yang segar dan tahan lama melalui proses fermentasi, dan hasil dari fermentasi buah buahan ini dikenal dengan nama wine.

Proses pembuatan minuman fermentasi pada workshop kali ini dimulai dengan memotong buah-buahan lalu di taruh di dalam panci bersama campuran air dan gula, kemudian di rebus sampai mendidih, sambil di aduk hingga gula larut, setelah itu di salin ke dalam galon minuman dan memasukan ragi dengan takaran tertentu. Lalu galon atau wadah  yang sudah di beri saluran angin dengan menggunakan pipa dan dimasukan ke dalam wadah yang sudah berisi air sebagai pengunci udara masuk sehingga udara yang di dalam bisa keluar dan udara dari luar tidak bisa masuk kedalam ini bertujuan untuk menjaga proses fermentasi atau peragian buah, selanjutnya diamkan dalam waktu sebulan.

whatsapp image 2019-01-03 at 23.08.35

Buah-buahan yang telah berhasil di buat menjadi minuman fermentasi oleh Azhar diantaranya salak, buah naga, apel, nanas dan lainnya. Tidak perlu khawatir perihal alkohol pada minuman fermentasi. Kandungan alkohol hanya berkisar 2% saja dan tidak akan memabukkan, selain itu minuman fermentasi juga mengandung bakteri baik untuk tubuh, selain itu mengonsumsi makanan atau minuman fermentasi sendiri dipercaya mampu menjaga kesehatan usus, selain itu mikroba pada hasil fermentasi akan membantu melancarkan pencernaan manusia. Seperti keju, yoghurt, dan yakult adalah salah satu contoh hasil fermentasi yang sering ditemui di supermarket.

 

Beny Saputra,

11 Januari 2019

 

Oesman Effendi Menumbuhkan Seni dari Kampung

Membaca eksistensi Oesman Effendi dalam penerawangan masa lalu, seperti menemukan namanya di antara kata-kata dalam lembaran kliping-kliping surat kabar dan majalah yang telah menguning, memahami setiap peristiwa, menghubungkan dan menyusunnya dalam sebuah garis perjalanan hidup. Memang, surat kabar menempati posisi paling penting dalam upaya pembacaan sejarah seni rupa kita. Media publikasi di masa lalu ini menyelamatkan keberadaan sejarah seni rupa Indonesia dengan menyediakan kolom budaya bagi setiap pemberitaan peristiwa kesenian di masa lampau. Sebut lah itu Mimbar Indonesia, Kompas, Berita Buana, Sinar Harapan, Suara Karya, Pelita, dan lain-lain. Untungnya lembaga-lembaga seperti Dewan Kesenian Jakarta, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dan Indonesian Visual Art Archive sejak awal aktif mengumpulkan kepingan-kepingan perjalanan seni rupa itu dalam pengarsipan yang cukup rapi dan sistematis.

 

Selama lebih dari dua dekade, nama Oesman Effendi banter dalam pemberitaan di surat kabar sejak tahun 70-an. Polemik yang disebabkannya dengan pernyataan kontroversial, “seni lukis Indonesia belum ada” pada tahun 1969, menyebabkan ia menjadi salah satu tokoh seni lukis yang namanya paling sering disebut dalam pemberitaan. Adu argumen antar pelukis dan kritikus yang dipancing Oesman Effendi berputar tidak jauh sekitar permasalahan ada dan tiadanya seni lukis di Indonesia.

 

Apabila kita menelusuri kembali, jauh sebelum polemik itu, buah-buah pemikiran OE tentang modernisme dan identitas seni lukis Indonesia telah tampak sejak awal ia memutuskan untuk serius mendalami seni lukis lewat beberapa tulisannya dalam surat menyurat dengan Basuki Resobowo tahun 1949. Dapat kita temukan benih pemikiran itu tumbuh dari pemahaman OE tentang modernisme sejak ia membaca buku-buku kebudayaan barat dan menyaksikan pameran-pameran pelukis eropa semasa di Sekolah Menengah. Pemahaman itu berlanjut pada keputusannya untuk melakukan studi intensif terhadap relief candi Borobudur selama sepuluh tahun di Museum Pusat Jakarta dalam rangka pencarian suatu identitas ke-Indonesia-an. Pemikiran itu berbuah pada berbagai sikap kesenian yang tampak pada tulisan-tulisan dan karyanya.

 

Dalam konteks masa kini, menjadi penting untuk memahami semangat OE dengan menyingkap dasar-dasar pemikirannya tentang yang mana itu seni lukis Indonesia. Pemikiran yang akhirnya menghantarkan OE pada keputusan bulat untuk menetap di kampung halamannya Koto Gadang, meninggalkan segala kemapanan di Ibu Kota setelah sekian banyak pencapaian yang ia peroleh. OE memutuskan untuk mudik dan menumbuhkan kesenian di daerahnya, kampung yang ia sebut akar kebudayaan Indonesia.

 

Bersama penggandaan kliping yang kurator peroleh dari lembaga-lembaga tersebut di atas, dipamerkan pula koleksi benda milik Oesman Effendi : lukisan, buku, sketsa, dan piringan hitam yang masih disimpan keluarga. Namun deretan arsip ini belum mampu merepresentasikan garis perjalanan hidup Oesman Efffendi yang utuh. Masih banyak kepingan puzzle perjalanan hidupnya yang belum ditemukan.

 

Hampir tanpa sadar, kita berada di ambang kepunahan akan arsip-arsip berharga. OE sebagaimana hampir sebagian besar orang-orang Minangkabau yang hebat dan penting di masa lampau, turut menjadi tiang peradaban bangsa ini. Beberapa diantaranya perantau, jauh dari kampung dan sepertinya keberadaannya tidaklah dikira sepenting itu di masa depan oleh keluarga. Kebutuhan melestarikan orang-orang hebat ini sering tidak disadari keluarga sebagai pewaris informasi vital,

 

 

atau setidaknya sebab berbagai keterbatasan, penyelamatan akan informasi-informasi itu belum menjadi orientasi utama. Lukisan, tulisan, atau karya-karya lain yang ditinggalkan pun tidak terselamatkan dengan cukup baik. Demikianlah, kita butuh lebih banyak pelaku yang mau bekerja dan menulis. Kita harus bergerak lebih cepat dari laju kerusakan arsip yang berserakan entah dimana dan nyaris punah, dan gugurnya sumber-sumber informasi yang masih hidup.

 

Menyambut 99 tahun eksistensi tokoh seni lukis modern Oesman Effendi yang terus hidup dalam gagasan-gagasannya, Pameran Arsip 99 Tahun Oesman Effendi mengajak kita menyusuri jejak-jejak perjalanan Oesman Effendi dalam garis waktu. Selama pameran berlangsung, diputarkan juga rekaman ceramah Oesman Effendi pada 18 Juli 1976 di Taman Ismail Marzuki, berjudul Gerakan Seni Lukis di Sumatera Barat. Demikianlah, semoga pameran ini dapat memantik wacana untuk melakukan berbagai kerja lanjutan sehubung cita-cita Oesman Effendi : menumbuhkan kesenian dari kampung. Selamat membaca dan menyusur!

Padang, Desember 2018

Hidayatul Azmi

Seni Rupa Akar Tunggang Sinema

 

Catatan Penayangan Roadshow Milisifilm Forum Lenteng

Kali ini Bioskop Taman kedatangan kawan-kawan dari Milisifilem Forum Lenteng yang diwakilkan oleh Robby dan Dhuha. Dalam tour mereka kali ini, Ladang Rupa menjadi salah satu partner selain Kota Padang dan Pekan Baru untuk menayangkan lima filem dari kawan-kawan Milisifilem dan saling berbagi tentang pengetahuan sinema.  Tour penayangan Proyek Filem Hitam Putih yang berlangsung di berbagai kota di Jawa dan Sumatra ini bertujuan untuk saling berbagi tentang bagaimana praktik-praktik produksi visual, baik secara teknis maupun konteks. Seperti tajuk dari proyek Milisifilem, kelima filem yang ditayangkan memang filem hitam putih dengan berbagai narasi yang berbeda. Namun ternyata yang dikemukakan kawan-kawan Milisifilem melalui filem-filem ini bukannlah bentuk narasi, tapi bagaimana mereka menerapkan apa yang sudah dipelajari dari kelas Milisifilem.

Menariknya adalah, bagaimana proses kawan-kawan Milisifilem untuk menghasilkan sebuah karya berbentuk audio visual. Seperti yang dijelaskan Dhuha dan Robby, pada kelas Milisifilem mereka melakukan pendekatan dengan hal yang sangat-sangat mendasar, yaitu garis. Selama beberapa waktu, kawan-kawan milisi film membuat garis-garis sejajar, hingga garis-garis dengan ketebalan yang berbeda-beda. Saat itu mereka diajarkan bawha garis bisa membentuk irama. Tahap pembelajaran Milisifilem selanjutnya adalah dwimatra/nirmana, ilmu paling dasar dalam dunia seni rupa. Berlajut pada pembelajaran sketsa, bagaimana menangkap impresi dan membingkai komposisi dari sebuah objek. Metode-metode tersebutlah yang diaplikasikan dalam proses pengerjaan Proyek Filem Hitam Putih tersebut. Kawan-kawan Milisifilem juga belajar mengeksplorasi garis dengan penggunaan kamera, bagaimana kemunculan garis dengan kerapatan tertentu, intensitas tertentu, dan kecepatan tertentu mampu membangkitkan sebuah emosi. Dhuha menambahkan, kenapa dinamakan Proyek Hitam Putih, karena proses belajar mereka masih ditahap hitam-putih dan belum sampai tahap pengenalan warna, jadi mereka mengerjakan apa yang sudah mereka pelajari.

Filem Into The Dark bercerita tentang seorang aktivis agraria yang diculik. Hampir semua gambar berada dalam box mobil, dengan narasi yang secara linear berada di luar box, lalu masuk ke dalam box, dan akhirnya keluar lagi dari box. Dalam film ini, Dhuha memposisikan kamera sebagai mata bantu untuk penonton. Menurut Ddhuha, dibandingkan dengan memakai adegan kekerasan atau dialog terntentu, ia lebih memilih penggunaan cahaya sebagai intensitas suasana film untuk mencari tau bagaimana perasaan seseorang yang diculik dalam sebuah mobil box. Selain itu kecepatan mobil yang menghasilkan suara getaran juga membantu membangun ketegangan suasana dari narasi yang disampaikan.

Begitu juga dengan filem Karib yang mengimplikasikan garis-garis berirama dalam bentuk gelombang air di kolam berenang. Dari kelima filem yang ditayangkan, filem Aksi Reaksi memiliki teknik yang berbeda dengan keempat filem lainnya, karena visual bergaya kolase dengan teknik stopmotion ditambah dengan beberapa garis-garis. Mia bercerita bahwa filem tersebut terinspirasi dari warkop DKI episode Maju Mundur Kena dan Itu Bisa Diatur.

Robby menuturkan bahwa di Milisifilem mereka belajar bahwa film yang merupakan bagian dari seni, dimana filem sebagai seni terakhir, merupakan kompilasi dari seni-seni sebelumnya, baik itu seni rupa, teater, musik, dan lain-lain. Maka untuk belajar visual filem, mereka melakukan pendekatan dari akar visual itu sendiri, yaitu seni rupa. Milisifilem manjadi pengingat bahwa filem adalah bagian dari seni rupa juga. Dalam Proyek Filem Hitam Putih ini, para peserta Milisifilem juga berangkat dari menentukan sebuah premis. Meskipun tidak dalam bentuk produksi yang mapan, dimana sutradara, penulis, cameraman, dan produser memiliki tugas dan fungsi yang terpisah-pisah, namun pada proyek filem ini semua fungsi tersebut dilakukan secara bersama, karena tim hanya terdiri dari tiga orang.  Dalam filemnya, Cut, Robby mencoba mengekplorasi kemungkinan bagaimana seluloid bekerja dan menjadi penghubung antara proyeksionis dan penonton.

Pada filem Pagi yang Sunsang, yang ingin dihadirkan adalah bagaimana masyarakat sekarang sudah terbiasa dengan sesuatu yang paradoks. Traktor yang lalu lalang di tengah pasar mengangkut sampah dengan jumlah yang sangat banyak setiap harinya. Tapi tentu saja setiap film akan diinterpretasikan berbeda tergantung pengalam si penonton. Seperti yang disampaikan Rangga, bahwa filem ini akan memberi arti yang berbeda di daerah yang berbeda pula, sehingga permasalahan sampah yang diperlihatkan dalam filem ini menjadi isu universal yang bisa diterima diamanapun. Kedatangan kawan-kawan Milisifilem seperti memberikan pandangan yang mungkin luput, dimana pelajaran dasar dari keilmuan seni rupa merupakan akar utama dari sinema

itu sendiri.

 

Berpetualang Lebih Jauh Lewat Petualangan Sherina

Catatan Pemutaran Film Petualangan Sherina – Bioskop Taman

Meskipun sudah dewasa, bukan berarti kita juga mestinya menonton film-film untuk dewasa pula. Terlepas dari film dewasa yang penuh persoalan cinta-cintaan, atau film dengan isu-isu politik, sosial negara, agen-agen rahasia, atau film penuh intrik dan darah sekalipun, ternyata menonton film anak-anak menjadi hal yang menyenangkan. Kali ini bioskop taman menayangkan film semasa saya SD dulu, dan entah kapan trakhir kali menontonnya. Film Petualangan Sherina seolah menjadi ikon untuk mengenang masa kanak-kanak yang nakal dan menyenangkan. Saya rasa tidak ada yang tidak tau film musikan garapan Riri Riza tahun 2000 ini.

Menonton Petualangan Sherina di usia sekarang ini, rasanya seperti melihan album foto masa kecil, atau foto-foto lama yang tersimpan di folder komputer, atau album facebook. Terasa jadul, tapi lucu untuk diingat. Tak heran jika kami sangat menikmati Petualangan Sherina dan setiap lagu yang ada dalam film tersebut, seolah saya juga ikut berpetualang dalam memori masa kecil saya. Mengingat kembali ketika saya bermain layangan di pematang sawah, atau berlarian di kebun bambu sebelah rumah nenek dulu.

Meskipun sebenarnya cerita perualangan Sherina sangat sederhana, yaitu tentang Sherina seorang anak baru di sekolah Sadam, dan mereka merasa bersaing tentang siapa yang harusnya jadi jagoan di sekolah. Namun akhirnya mereka berteman akrab stelah Sherina berlibur ke villa milik keluarga Sadam, dan mereka berdua menjadi korban penculikan seorang konglomerat ibukota yang sedang melancarkan misinya untuk mendapatkan perkebunan keluarga Sadam yang sangat luas. Sherina yang berani menyelamatkan Sadam, dan membongkar otak dibalik penculikan Sadam.

Ternyata point dari cerita Petualangan Sherina menjadi topik yang menarik untuk didiskusikan. Ami mengungkapkan bahwa dalam Petualangan Sherina kita bisa melihat bagaimana sistem kapitalis bekerja, dimana tokoh Kertarajasa sang konglomerat dan Ses Natasya menjadi pelaku penculikan dalam film ini. Menurut Ami, jika kita simak Petualangan Sherina, bagaimana seorang anak kecil bisa meruntuhkan keserakahan seorang konglomerat yang melakukan tindak kejahatan demi keberhasilan proyeknya. Dan yang menariknya ketika kejahatan itu terkuak di depan media secara langsung. “Jika dilihat sekarang ini, rasanya itu adalah hal yang mustahil untuk dilakukan” ujar Ami. Menurutnya, hal ini semacam pesan atau harapan seorang Riri Riza yang terselip dalam film Petualangan Sherina, dimana mestinya kita sekarang yang tumbuh bersama Petualangan Sherina lebih berani melawan segala macam bentuk kejahatan sosial.

Menurut  Ogy, Petualangan Sherina yang cukup menarik perhatian di zamannya itu semacam pembaharuan untuk perjalanan perfilman Indonesia yang sempat merosot. Sebelum bermain di film, Sherina sudah terlebih dahulu mengeluarkan album pertamanya di tahun 1999. Menjadikan Sherina sebagai tokoh utama Petualangan Sherina, merupakan upaya Riri untuk menarik perfilman indonesia dari masa-masa terpuruknya. Ogy juga menambahkan, bahwa di tahu 1958 sudah ada film yang menjadikan anak-anak sebagai tokoh utama, yaitu film Jendral Kantjil di tahun 1958 garapan sutradara Nya’ Abbas Akup. Sebelum Jendral Kancil, ada tiga film karya Abbas Akup yang bertema komedi, hanya saja film-film tersebut kurang mendapat tempat di hati penonton. Saat itu, film-film yag dibanjiri penonton adalah film-film dewasa dengan sedikit adegan sensual.

Nanda juga menambahkan, bahwa Petualangan Sherina sudah memperlihatkan bagaimana demokrasi dalam keluarga di tahun 2000 tersebut. Seorang anak SD sudah memiliki hak untuk menyampaikan perasaannya kepada orang tua, tentunya supaya orangtua lebih memahami anak dalam proses mendidik dan tumbuh kembangnya. Petualangan Sherina bukan hanya sekedar film hiburan anak-anak, tapi film edukasi keluarga dimana bukan hanya anak, tapi juga penting untuk orang tua.

Melalui Petualangan Sherina, dapat dilihat bagaimana kontruksi gender dikalangan masyarakat moderen dan terpelajar. Sherina dengan latar belakang ayah seorang insinyur pertanian dimana juga sudah menempuh pendidikan setahun di Jepang, ibu seorang pengaran lagu dan hidup di kota, bukanlah seorang anak perempuan yang manja, dan penakut. Namun sebaliknya, karakter Sherina dibangun menjadi anak perempuan yang berani, senang berpetualang, dan tidak menangis ketika terluka. Sedangkan Sadam, dibalik kenakalanya, ternyata dia adalah anak laki-laki yang manja yang hidup dilingkungan pedesaan. Sherina menjadi sosok hero yang berani melawan orang dewasa sekalipun, dan karakter Sherina sendiri jelas tidak dibuat-buat. Ada semacam dobrakan-dobrakan yang dibentuk oleh Riri Riza dalam film musikalnnya ini.

Petualangan Sherina bukan hanya sekedar petualangan anak-anak yang menjelajah hutan dan meyelamatkan diri dari penculik yang meminta tebusan, lebih dari itu Petualangan Sherina menjadi pintu masuk untuk petualang yang lebih jauh dan lebih luas lagi, petualangan masa lalu dan masa depan. Petualangan tanpa batas ruang dan waktu.

“Saya dan Perawan” , Alih-Alih Sensulitas Perempuan

oleh : anggy rusidi

Film sebagai media komunikasi yang bersifat audio visual, tentu saja memiliki pengaruh terhadap para para penontonnya. Sebagai karya seni, film menjadi media untuk menyampaikan ide dan media untuk melakukan ekperimen yang sekarang banyak dikenal dengan film ekperimental. Maksud dari film eksperimental sendiri adalah film sebagai labor percobaan untuk mengekplorasi dengan bebas ide, gagasan, serta keresahan subjektifitas si pembuat film sendiri.

Film “Saya dan Perawan” karya Gangga Lawranta, merupakan film pendek, dimana sutradara bereksperimen dalam karyanya tersebut. tidak hanya dalam penggarapannya saja, tapi juga dalam penyajiannya. Film ini dihadirkan dalam bentuk instalasi video, dan dipamerkan dalam ruang pameran, bukan dalam ruang menonton yang dikhususkan untuk menonton berjamaah. Sutradara mendisplai karyanya ini menggunakan manikin dengan pakaian perempuan  yang sama dalam filmnya, sedangkan film tersebut ditayangkan pada sebuaah layar kecil yang diletakakn dibawak kaki manikin, sehingga tidak memungkinkan untuk ditonton secara masal, tapi ditonton perorangan. Pengunjung yang ingin menonton, akan mengintip kebawah rok manikin untuk dapat melihat film eksperimental tersebut.

Dalam filmnya, sutradara ingin menangkap respon tentang isu yang sengaja dilemparkan pada masyarakat ramai dalam bentuk performen art, yaitu persoalan keperawanan. Seperti kebanyakan film eksperimental, film ini tidak memiliki plot, namun memiliki struktur. Film “Saya dan Perawan”ini seperti video social eksperment karena bersinggungan dengan struktur sosial masyarakat tempat film ini digarap, yaitu kota Padang Panjang yang dikenal dengan kota Serambi Mekkah. Film berdurasi kurang lebih empat menit ini, menampilkan seorang talent perempuan bergaun merah, dengan makeup yang cukup mencolok dan rambut yang terurai panjang berjalan di tengah keramaian pasar dengan mengalungkan kertas bertulisakan saya tidak perawan. Jelas tampak dalam film ini berbagai ekspresi masyarakat melihat seorang perempuan dengan dandanan mencolok berjalan ditengah keramaian pasar sambil mengalungkan tulisan berisi kata-kata yang masih dianggap tabu dalam masyarakat itu sendiri.

Berdasarkan pemaparan sutradara, film ini mencoba untuk menghadirkan isu seputar persoalan keperawanan  dalam bentuk tokoh perempuan yang dihadirkan. Sedangkan menghadirkannya dalam bentuk video instalasi bermaksud untuk memberikan efek psikis yang berbeda. Dengan karyanya ini, Sutradara ingin menyampaikan bahwa berbicara tentang perempuan, bukan hanya persoalan seksualitas saja, tapi banyak isu yang dapat berkembang.

Karya yang berudul “Saya dan Perawan” ini, tentu memberi berbagai sudut pandang yang berbeda-beda kepada khalayak ramai. Terlebih lagi performance dari talen yang cukup memberi efek chaos di masyarakakat, tidak hanya situasi pasar, namun juga merambah ke sosial media. Bicara soal ketidakperawanan secara umum adalah terjadinya penetrasi atau lebih dikenal dengan berhubungan intim. Maka dari itu, keperawanan identik dengan seksualitas.

Dalam masyarakat indonesia, keperawanan merupakan simbol dari kehormatan seorang perempuan, sedangkan kata tidak perawan identik dengan hubungan intim antara laki dan perempuan yang belum memiliki ikatan pernikahan. Kata tidak perawan memang masih dianggap tabu dalam prespektif masyarakat daerah khususnya, karena berkaitan dengan kultur sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Tidak perawan juga identik dengan tingkah dan perilaku seorang perempuan yang dianggap tidak bisa menjaga kehormatanya, atau masyarakat menganggapnya sebagai perempuan yang tidak suci.  Menurut pandangan saya, karya ini seperti memberi pembenaran terhadap image yang kemungkinan besar ada dalam stigma masyarakat tentang bagaimana figur seorang perempuan yang tidak perawan dalam konotasi negatif. Memaparkan kata tersebut kehadapan halayak ramai bisa jadi bertujuan untuk memecah tabu tersebut, agar masyarakat lebih peduli dengan kesehatan reproduksi, atau pendidikan seks usia dini. Tapi apakah hal tersebut cukup efektif?

Persoalan perawan atau tidaknya seorang perempuan, hakikatnya adalah hak perempuan atas tubuhnya sendiri. Perempuan memiliki hak penuh atas dirinya terlepas dari kontrol sosial yang dibentuk oleh sistem patriarki, yang membentuk stigma-stigma negatif terhadap ketidakperawanan dan terpatri dalam benak masyarakat sehingga menjadi sebuah kontrol untuk perempuan sendiri. Nyatanya secara langsung atau sengaja sutradara menghadirkan figur yang secara simbolik tercipta dalam stigma masyarakat. Dapat dikatakan bahwa sutradara memberikan pembenaran atas stigma tersebut.  Simbol itu melekat pada talent dalam film “Saya dan Perawan” itu sendiri, seperti pada pemilihan warna merah yang dipakaikan pada talent, yaitu gaun berwarna merah, dan lipstik merah. Merah lebih melambangkan sensualitas ketimbang lambang feminim seorang perempuan. Selain itu perempuan dengan rambut panjang terurai dan make up berlebihan, juga menitik beratkan pada sensualitas, serta perilaku yang tidak sesuai dengan tabiat untuk daerah seperti Padang Panjang.  Di film ini tampak masyarakat Padang Panjang, khususnya perempuan-perempuan berkerudung melihat aneh, karna figur yang sangat mencolok ditambah lagi dengan kertas bertuliskan saya tidak perawan. Seperti yang disampaikan sutradara bahwa tokoh perempuan dalam film ini adalah perlambangan isu yang ingin dikemukakan, tapi apakah isu yang terpaparkan? Atau malah menegaskan serupa apa image perempuan yang sudah tidak perawan?

Pendisplaian karya ini juga didominasi dengan warna merah yaitu tirai berwarna merah, dan tak tanggung-tanggung sutradara memakaikan g-string berwana merah pada manikinnya. Jika menurut sutradara mendisplai seperti itu memberikan efek psikis yang berbeda, juga tidak tertutup kemungkinan bahwa hal tersebut memberi efek seksual tertentu bagi para penontonnya. “Saya dan Perawan” bagi saya adalah karya yang secara tidak langsung mengeksploitasi perempuan dengan menghadirkan figur perempuan tidak perawan dengan sedemikian rupa. Akan berbeda jika figur yang hadir dan mengalungkan tulisan saya tidak perawan adalah perempuan dengan tampilan biasa-biasa saja, dengan pakaian yang mungkin dipakai sehari-hari, dengan make up yang biasa atau tanpa make up sekalipun. Karna persoalan keperawanan adalah persoalan perempuan secara universal, bukan persoalan perempuan dalam figur tertentu. Selain itu menurut saya karya ini malah bukan memecahkan tabu, atau mematahkan stigma negatif di masyarakat tentang perawan dan tidak perawan, tapi malah menegaskannya. Karna film ini merupakan karya seorang laki-laki yang berbicara soal perempuan, maka karya ini menggambarkan domimasi patriarki dalam pembentukan stigma terhadap kehidupan perempuan yang akan menekan ruang gerak perempuan atas dirinya sendiri. Akhirnya “Saya dan Perawan” sebagai hasil ekspermen dari sutradara hanya berbicara tentang perempuan dalam kacamata laki-laki yang tidak jauh dari persoalan seksual saja.

*tulisan ini sebagai respon dari karya “Saya dan Perawan” oleh Gangga Lawranta yang dipamerankan pada 4-7 September 2018 di Gdg Nusantara ISI Padang Panjang.

Parak Ria Open Studio

IMG-20180911-WA0005

Merayakan ruang berkegiatan baru dan sebagai pemantik awal semangat berkreatifitas di tempat dan suasana baru ini, Ladang Rupa akan mengadakan open studio dengan tajuk Parak Ria pada :

Waktu : 12 – 16 September 2018
Tempat : Ruang Sekretariat Baru Ladang Rupa, Jalan Basa Nan Kuning, Kel. pulai Anak Air, Kec. Mandiangin Koto Selayan, Bukittinggi. (Di samping SDN 03 Pulai Anak Air)

Pameran Parak Ria akan menghadirkan karya-karya seniman :
Leon Yansen, Ogy Wisnu, Agung Sefitra, Bbverb, Angga Elpatsa, Solihin, Dika Adrian, Andre, Dxx, Bayu Rahmad T, Benny Saputra, Rocky Asa Ferdian, Agung Budiman, Harmen Moezahar, M. Fadly, Anggy Rusidi, Alex Fitra J, Sastra Hadi K.

Selama 5 hari, Parak Ria Open Studio akan digelar bersama rangkaian kegiatan workshop berkebun.

Silakan simak kiriman dari instagram @ladangrupa untuk info selanjutnya

 

 

Dua Bulan Di Ibukota; Cerita Malala 1 #LadangTrip

Pada kamis, 5 juli 2018, hari ketiga saya di Jakarta, saya di beri undangan untuk menghadiri pembukaan pameran sketsa di Galeri Cipta 3 Taman  Ismail Maszuki pukul 19.00. Setelah sambutan dan galeri mulai dibuka, saya bergegas ke meja tamu untuk mendapatkan katalog, setelah itu barulah saya menyerbu masuk galeri untuk tau seperti apa karya-karya yang dipajang di sana.

 

Seperti judul pamerannya “Cerita Kecil Tentang Jakarta” karya yang hadir merupakan bagian-bagian kecil suasana kota Jakarta. Pameran ini diadakan oleh Deskomsketchers, yaitu kelompok yang aktif berkegiatan tidak hanya di kampus IKJ, tapi juga luar kampus, sehingga menjadikan kelompok ini berada antara pendidikan formal dan komunitas. Para seniman yang terlibat dalam pameran ini bukan hanya dari kalangan mahasiswa, tapi juga dari kalangan dosen, komikus, ilustrator, pegawai pemerintahan, bahkan siswa SMA juga turut andil dalam pameran ini. Objek karya dalam pameran inipun beragam, mulai dari gedung-gedung tinggi khas ibukota, pemukiman padat penduduk, pasar, terminal, stasiun, pelabuhan, tempat ibadah, bahkan suasana dalam kereta juga ada dalam pameran tersebut. Pengemasan pameran sketsa inipun tidak jauh beda dengan pameran-pameran lainnya, tidak hanya memamerkan karya dalam bingkai, namun juga memamerkan buku-buku sketsa, atau media lain pasa seniman seperti baju, topi, atau tas.

 

Catatan Merah TAKJILART 2018

Ramadhan 1439 H ini Ladang Rupa menghadirkan kembali Takjilart pada 5 sampai dengan 9 Juni 2018 lalu. Takjilart adalah kegiatan berbuka dan berkarya bersama yang mengundang para pelaku seni dan terbuka untuk umum. Takjilart yang ketiga ini dikemas sedikit berbeda dari takjilart sebelumnya. Takjilart#3 ini terdiri dari rangkaian kegiatan berkarya pada tanggal 5 sampai 8 Juni dan kegiatan puncak pada tanggal 9 Juni yang melibatkan seniman sebagai partisipan sejak awal kegiatan. Dengan mengangkat tema “Seni, Kita, dan Kota”, Takjilart #3 berusaha menemukan sisi menarik dari Kota Bukittinggi lewat celah-celah kreatif yang kemudian direspon menjadi sebuah karya seni. Ada enam karya dari seniman dan kelompok yang dipresentasikan pada kegiatan puncak.

Takjilart #3 menyodorkan Kota Bukittinggi sebagai wacana umum yang dikulik seniman selama empat hari. Kota kecil dengan kompleksitas kehidupan di dalamnya, sebagai sebuah kota wisata, kota sejarah, kota perdagangan, dan peristiwa-peristiwanya apapun itu yang menandai eksistensinya, tentu memiliki celah-celah yang menarik untuk diangkat dengan daya kreatif seniman. Kegiatan ini seharusnya menarik dan penuh kejutan mengingat seniman partisipan yang diundang memiliki potensi kreatifitas dan keunikan personal masing-masing. Sayangnya wujud program yang disusun oleh penyelenggara tidak disesuaikan dengan kebutuhan dari kegiatan ini. Dengan space waktu empat hari untuk observasi dan pengerjaan karya, adalah sulit bagi seniman untuk menyentuh kedalaman ruh kota yang kompleks ini dan menuangkan ide menjadi karya seni yang baik. Hal ini barangkali menjadi kendala bagi seniman partisipan dari luar kota yang baru mengenal kulit Kota Bukittinggi tanpa pengalaman empiris yang mumpuni. Wajar bila karya-karya yang disuguhkan tidak cukup matang dan memenuhi ekspektasi awal. Hampir seluruh karya dangkal baik dari pemilihan wacana maupun capaian penggalian estetis. Sebenarnya dari awal, ketidakjelasan brief dari penyelenggara sendiri menyebabkan pelaksanaan kegiatan menjadi blunder. Selain itu, beberapa karya sebenarnya tidak layak diikutsertakan karena seniman tidak mengikuti dengan baik prosedur program yang sudah dirancang.

Secara garis besar seluruh karya yang dihadirkan mengangkat sebuah “permasalahan” yang terjadi di Kota Bukittinggi, yaitu seputar gaya hidup masyarakat, kebersihan, dan ruang kreatif. Yang menjadi catatan baiknya adalah beberapa seniman memang terpantau melakukan observasi dan pengolahan ide dengan baik dengan cukup baik sehingga lahir karya yang layak ditampilkan.

DXX berkolaborasi dengan Jesca menghadirkan dua karya berupa video art dan performance art. Kedua karya ini merespon fenomena “baju seken” yang menjadi gaya hidup warga Bukittinggi. Dengan menyodorkan wacana ambiguitas sikap mencintai produk dalam negeri dan kebutuhan orang-orang akan produk bermerk import, sepertinya kelompok ini mampu menjawab tantangan penyelenggara untuk melakukan observasi, merespon wacana dan mengerjakan karya dalam empat hari dengan cukup baik.

Selanjutnya, Makben dan ERWEJE berkolaborasi menghadirkan 2 panel karya drawing yang merespon kebiasaan “mabuk lem” pada sebagian anak muda Bukittinggi . Lewat karya berjudul “anak lem” Makben dan ERWEJE menampilkan visual fenomena mabuk lem dengan cukup gamblang. Walaupun kedua kelompok ini mengakui riset tentang “mabuk lem” yang mereka lakukan tidak begitu dalam, namun cukup memenuhi porsi kebutuhan karya ditambah penggarapan karya yang sesuai kebutuhan pula.

Kolaborasi yang dihadirkan ZERCO dan FMR memaparkan temuan mereka tentang penyebab banjir yang terjadi di Gurun Panjang, Bukittinggi beberapa waktu yang lalu. Dengan visualisasi ilustrasi, kaligrafi, dan handlettering, kelompok ini mengusung sampah sebagai penyebab utama banjir yang menyumbat drainase. Karya ini seperti mengandung pesan-pesan kebaikan tentang pengelolaan sampah. Lebih ke permukaan lagi, karya Iqbal memaparkan wacana lain tentang kebersihan kota Bukittinggi dengan memilih perosalan yang mewakili masalah kebersihan itu, yaitu puntung rokok. Yang disayangkan adalah ketertarikan Iqbal pada wacana yang sangat umum ini tidak secara unik dan khusus menampilkan eksistensi Kota Bukittinggi itu.

Karya selanjutnya merespon wacana kebersihan dengan cara yang cukup berbeda. Dengan menawarkan alternatif pengganti plastik yaitu totebag reusable untuk mengurangi sampah plastik, kedua pelaku industri kreatif Cikiak dan Vella terang-terangan mempromosikan produk mereka dengan mengusung brand tertentu. Sebenarnya ini mewakili kelafaan penyelenggara yang cukup fatal, karena karya yang dibawakan kelompok ini sudah selesai sejak awal pelaksanaan. Tentu saja tidak sesuai dengan harapan penyelenggara sejak awal tentang tujuan pelaksanaan Takjilart sendiri.

Karya instalasi dari kelompok BDX dan BARATI mengusung permasalahan minimnya ruang dan dukungan pemerintah terhadap aktifitas kreatif di Bukittinggi. Permasalahan ini diusungkan setelah membaca perkembangan muncul dan hilangnya beberapa ruang kreatif di kota Bukittinggi sejak dulu. Sejalan dengan itu, karya instalasi dari Farel mempertanyakan sesuatu yang dapat meransangan kreatifitas remaja di Bukittinggi yang dinilai “mampet” disebabkan hal-hal seperti game.

Yang menjadi catatan baik di sini adalah, catatan-catatan observasi yang turut ditampilkan disamping karya ternyata memberikan kejutan-kejutan kecil dengan fakta tentang Kota Bukittinggi. Fakta-fakta temuan seniman tentang beberapa hal di kota ini memancing keingintahuan kita untuk menelusuri kompleksitas eksistensi Bukittinggi, kota kecil yang dingin ini lebih jauh lagi. Sebenarnya output kegiatan ini akan sangat menarik dan jika digarap dengan perancangan dan persiapan yang lebih matang. Kegiatan ini tidak mungkin hanya selesai dan lepas sebagai euforia tanpa pembelajaran dari kealfaan-kealfaan yang terjadi. Sebagai komunitas yang mendukung pengembangan seni dan budaya Ladang Rupa harus terus berkembang dan belajar. –

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑