“Saya dan Perawan” , Alih-Alih Sensulitas Perempuan

oleh : anggy rusidi

Film sebagai media komunikasi yang bersifat audio visual, tentu saja memiliki pengaruh terhadap para para penontonnya. Sebagai karya seni, film menjadi media untuk menyampaikan ide dan media untuk melakukan ekperimen yang sekarang banyak dikenal dengan film ekperimental. Maksud dari film eksperimental sendiri adalah film sebagai labor percobaan untuk mengekplorasi dengan bebas ide, gagasan, serta keresahan subjektifitas si pembuat film sendiri.

Film “Saya dan Perawan” karya Gangga Lawranta, merupakan film pendek, dimana sutradara bereksperimen dalam karyanya tersebut. tidak hanya dalam penggarapannya saja, tapi juga dalam penyajiannya. Film ini dihadirkan dalam bentuk instalasi video, dan dipamerkan dalam ruang pameran, bukan dalam ruang menonton yang dikhususkan untuk menonton berjamaah. Sutradara mendisplai karyanya ini menggunakan manikin dengan pakaian perempuan  yang sama dalam filmnya, sedangkan film tersebut ditayangkan pada sebuaah layar kecil yang diletakakn dibawak kaki manikin, sehingga tidak memungkinkan untuk ditonton secara masal, tapi ditonton perorangan. Pengunjung yang ingin menonton, akan mengintip kebawah rok manikin untuk dapat melihat film eksperimental tersebut.

Dalam filmnya, sutradara ingin menangkap respon tentang isu yang sengaja dilemparkan pada masyarakat ramai dalam bentuk performen art, yaitu persoalan keperawanan. Seperti kebanyakan film eksperimental, film ini tidak memiliki plot, namun memiliki struktur. Film “Saya dan Perawan”ini seperti video social eksperment karena bersinggungan dengan struktur sosial masyarakat tempat film ini digarap, yaitu kota Padang Panjang yang dikenal dengan kota Serambi Mekkah. Film berdurasi kurang lebih empat menit ini, menampilkan seorang talent perempuan bergaun merah, dengan makeup yang cukup mencolok dan rambut yang terurai panjang berjalan di tengah keramaian pasar dengan mengalungkan kertas bertulisakan saya tidak perawan. Jelas tampak dalam film ini berbagai ekspresi masyarakat melihat seorang perempuan dengan dandanan mencolok berjalan ditengah keramaian pasar sambil mengalungkan tulisan berisi kata-kata yang masih dianggap tabu dalam masyarakat itu sendiri.

Berdasarkan pemaparan sutradara, film ini mencoba untuk menghadirkan isu seputar persoalan keperawanan  dalam bentuk tokoh perempuan yang dihadirkan. Sedangkan menghadirkannya dalam bentuk video instalasi bermaksud untuk memberikan efek psikis yang berbeda. Dengan karyanya ini, Sutradara ingin menyampaikan bahwa berbicara tentang perempuan, bukan hanya persoalan seksualitas saja, tapi banyak isu yang dapat berkembang.

Karya yang berudul “Saya dan Perawan” ini, tentu memberi berbagai sudut pandang yang berbeda-beda kepada khalayak ramai. Terlebih lagi performance dari talen yang cukup memberi efek chaos di masyarakakat, tidak hanya situasi pasar, namun juga merambah ke sosial media. Bicara soal ketidakperawanan secara umum adalah terjadinya penetrasi atau lebih dikenal dengan berhubungan intim. Maka dari itu, keperawanan identik dengan seksualitas.

Dalam masyarakat indonesia, keperawanan merupakan simbol dari kehormatan seorang perempuan, sedangkan kata tidak perawan identik dengan hubungan intim antara laki dan perempuan yang belum memiliki ikatan pernikahan. Kata tidak perawan memang masih dianggap tabu dalam prespektif masyarakat daerah khususnya, karena berkaitan dengan kultur sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Tidak perawan juga identik dengan tingkah dan perilaku seorang perempuan yang dianggap tidak bisa menjaga kehormatanya, atau masyarakat menganggapnya sebagai perempuan yang tidak suci.  Menurut pandangan saya, karya ini seperti memberi pembenaran terhadap image yang kemungkinan besar ada dalam stigma masyarakat tentang bagaimana figur seorang perempuan yang tidak perawan dalam konotasi negatif. Memaparkan kata tersebut kehadapan halayak ramai bisa jadi bertujuan untuk memecah tabu tersebut, agar masyarakat lebih peduli dengan kesehatan reproduksi, atau pendidikan seks usia dini. Tapi apakah hal tersebut cukup efektif?

Persoalan perawan atau tidaknya seorang perempuan, hakikatnya adalah hak perempuan atas tubuhnya sendiri. Perempuan memiliki hak penuh atas dirinya terlepas dari kontrol sosial yang dibentuk oleh sistem patriarki, yang membentuk stigma-stigma negatif terhadap ketidakperawanan dan terpatri dalam benak masyarakat sehingga menjadi sebuah kontrol untuk perempuan sendiri. Nyatanya secara langsung atau sengaja sutradara menghadirkan figur yang secara simbolik tercipta dalam stigma masyarakat. Dapat dikatakan bahwa sutradara memberikan pembenaran atas stigma tersebut.  Simbol itu melekat pada talent dalam film “Saya dan Perawan” itu sendiri, seperti pada pemilihan warna merah yang dipakaikan pada talent, yaitu gaun berwarna merah, dan lipstik merah. Merah lebih melambangkan sensualitas ketimbang lambang feminim seorang perempuan. Selain itu perempuan dengan rambut panjang terurai dan make up berlebihan, juga menitik beratkan pada sensualitas, serta perilaku yang tidak sesuai dengan tabiat untuk daerah seperti Padang Panjang.  Di film ini tampak masyarakat Padang Panjang, khususnya perempuan-perempuan berkerudung melihat aneh, karna figur yang sangat mencolok ditambah lagi dengan kertas bertuliskan saya tidak perawan. Seperti yang disampaikan sutradara bahwa tokoh perempuan dalam film ini adalah perlambangan isu yang ingin dikemukakan, tapi apakah isu yang terpaparkan? Atau malah menegaskan serupa apa image perempuan yang sudah tidak perawan?

Pendisplaian karya ini juga didominasi dengan warna merah yaitu tirai berwarna merah, dan tak tanggung-tanggung sutradara memakaikan g-string berwana merah pada manikinnya. Jika menurut sutradara mendisplai seperti itu memberikan efek psikis yang berbeda, juga tidak tertutup kemungkinan bahwa hal tersebut memberi efek seksual tertentu bagi para penontonnya. “Saya dan Perawan” bagi saya adalah karya yang secara tidak langsung mengeksploitasi perempuan dengan menghadirkan figur perempuan tidak perawan dengan sedemikian rupa. Akan berbeda jika figur yang hadir dan mengalungkan tulisan saya tidak perawan adalah perempuan dengan tampilan biasa-biasa saja, dengan pakaian yang mungkin dipakai sehari-hari, dengan make up yang biasa atau tanpa make up sekalipun. Karna persoalan keperawanan adalah persoalan perempuan secara universal, bukan persoalan perempuan dalam figur tertentu. Selain itu menurut saya karya ini malah bukan memecahkan tabu, atau mematahkan stigma negatif di masyarakat tentang perawan dan tidak perawan, tapi malah menegaskannya. Karna film ini merupakan karya seorang laki-laki yang berbicara soal perempuan, maka karya ini menggambarkan domimasi patriarki dalam pembentukan stigma terhadap kehidupan perempuan yang akan menekan ruang gerak perempuan atas dirinya sendiri. Akhirnya “Saya dan Perawan” sebagai hasil ekspermen dari sutradara hanya berbicara tentang perempuan dalam kacamata laki-laki yang tidak jauh dari persoalan seksual saja.

*tulisan ini sebagai respon dari karya “Saya dan Perawan” oleh Gangga Lawranta yang dipamerankan pada 4-7 September 2018 di Gdg Nusantara ISI Padang Panjang.

Iklan

Parak Ria Open Studio

IMG-20180911-WA0005

Merayakan ruang berkegiatan baru dan sebagai pemantik awal semangat berkreatifitas di tempat dan suasana baru ini, Ladang Rupa akan mengadakan open studio dengan tajuk Parak Ria pada :

Waktu : 12 – 16 September 2018
Tempat : Ruang Sekretariat Baru Ladang Rupa, Jalan Basa Nan Kuning, Kel. pulai Anak Air, Kec. Mandiangin Koto Selayan, Bukittinggi. (Di samping SDN 03 Pulai Anak Air)

Pameran Parak Ria akan menghadirkan karya-karya seniman :
Leon Yansen, Ogy Wisnu, Agung Sefitra, Bbverb, Angga Elpatsa, Solihin, Dika Adrian, Andre, Dxx, Bayu Rahmad T, Benny Saputra, Rocky Asa Ferdian, Agung Budiman, Harmen Moezahar, M. Fadly, Anggy Rusidi, Alex Fitra J, Sastra Hadi K.

Selama 5 hari, Parak Ria Open Studio akan digelar bersama rangkaian kegiatan workshop berkebun.

Silakan simak kiriman dari instagram @ladangrupa untuk info selanjutnya

 

 

Dua Bulan Di Ibukota; Cerita Malala 1 #LadangTrip

Pada kamis, 5 juli 2018, hari ketiga saya di Jakarta, saya di beri undangan untuk menghadiri pembukaan pameran sketsa di Galeri Cipta 3 Taman  Ismail Maszuki pukul 19.00. Setelah sambutan dan galeri mulai dibuka, saya bergegas ke meja tamu untuk mendapatkan katalog, setelah itu barulah saya menyerbu masuk galeri untuk tau seperti apa karya-karya yang dipajang di sana.

 

Seperti judul pamerannya “Cerita Kecil Tentang Jakarta” karya yang hadir merupakan bagian-bagian kecil suasana kota Jakarta. Pameran ini diadakan oleh Deskomsketchers, yaitu kelompok yang aktif berkegiatan tidak hanya di kampus IKJ, tapi juga luar kampus, sehingga menjadikan kelompok ini berada antara pendidikan formal dan komunitas. Para seniman yang terlibat dalam pameran ini bukan hanya dari kalangan mahasiswa, tapi juga dari kalangan dosen, komikus, ilustrator, pegawai pemerintahan, bahkan siswa SMA juga turut andil dalam pameran ini. Objek karya dalam pameran inipun beragam, mulai dari gedung-gedung tinggi khas ibukota, pemukiman padat penduduk, pasar, terminal, stasiun, pelabuhan, tempat ibadah, bahkan suasana dalam kereta juga ada dalam pameran tersebut. Pengemasan pameran sketsa inipun tidak jauh beda dengan pameran-pameran lainnya, tidak hanya memamerkan karya dalam bingkai, namun juga memamerkan buku-buku sketsa, atau media lain pasa seniman seperti baju, topi, atau tas.

 

Catatan Merah TAKJILART 2018

Ramadhan 1439 H ini Ladang Rupa menghadirkan kembali Takjilart pada 5 sampai dengan 9 Juni 2018 lalu. Takjilart adalah kegiatan berbuka dan berkarya bersama yang mengundang para pelaku seni dan terbuka untuk umum. Takjilart yang ketiga ini dikemas sedikit berbeda dari takjilart sebelumnya. Takjilart#3 ini terdiri dari rangkaian kegiatan berkarya pada tanggal 5 sampai 8 Juni dan kegiatan puncak pada tanggal 9 Juni yang melibatkan seniman sebagai partisipan sejak awal kegiatan. Dengan mengangkat tema “Seni, Kita, dan Kota”, Takjilart #3 berusaha menemukan sisi menarik dari Kota Bukittinggi lewat celah-celah kreatif yang kemudian direspon menjadi sebuah karya seni. Ada enam karya dari seniman dan kelompok yang dipresentasikan pada kegiatan puncak.

Takjilart #3 menyodorkan Kota Bukittinggi sebagai wacana umum yang dikulik seniman selama empat hari. Kota kecil dengan kompleksitas kehidupan di dalamnya, sebagai sebuah kota wisata, kota sejarah, kota perdagangan, dan peristiwa-peristiwanya apapun itu yang menandai eksistensinya, tentu memiliki celah-celah yang menarik untuk diangkat dengan daya kreatif seniman. Kegiatan ini seharusnya menarik dan penuh kejutan mengingat seniman partisipan yang diundang memiliki potensi kreatifitas dan keunikan personal masing-masing. Sayangnya wujud program yang disusun oleh penyelenggara tidak disesuaikan dengan kebutuhan dari kegiatan ini. Dengan space waktu empat hari untuk observasi dan pengerjaan karya, adalah sulit bagi seniman untuk menyentuh kedalaman ruh kota yang kompleks ini dan menuangkan ide menjadi karya seni yang baik. Hal ini barangkali menjadi kendala bagi seniman partisipan dari luar kota yang baru mengenal kulit Kota Bukittinggi tanpa pengalaman empiris yang mumpuni. Wajar bila karya-karya yang disuguhkan tidak cukup matang dan memenuhi ekspektasi awal. Hampir seluruh karya dangkal baik dari pemilihan wacana maupun capaian penggalian estetis. Sebenarnya dari awal, ketidakjelasan brief dari penyelenggara sendiri menyebabkan pelaksanaan kegiatan menjadi blunder. Selain itu, beberapa karya sebenarnya tidak layak diikutsertakan karena seniman tidak mengikuti dengan baik prosedur program yang sudah dirancang.

Secara garis besar seluruh karya yang dihadirkan mengangkat sebuah “permasalahan” yang terjadi di Kota Bukittinggi, yaitu seputar gaya hidup masyarakat, kebersihan, dan ruang kreatif. Yang menjadi catatan baiknya adalah beberapa seniman memang terpantau melakukan observasi dan pengolahan ide dengan baik dengan cukup baik sehingga lahir karya yang layak ditampilkan.

DXX berkolaborasi dengan Jesca menghadirkan dua karya berupa video art dan performance art. Kedua karya ini merespon fenomena “baju seken” yang menjadi gaya hidup warga Bukittinggi. Dengan menyodorkan wacana ambiguitas sikap mencintai produk dalam negeri dan kebutuhan orang-orang akan produk bermerk import, sepertinya kelompok ini mampu menjawab tantangan penyelenggara untuk melakukan observasi, merespon wacana dan mengerjakan karya dalam empat hari dengan cukup baik.

Selanjutnya, Makben dan ERWEJE berkolaborasi menghadirkan 2 panel karya drawing yang merespon kebiasaan “mabuk lem” pada sebagian anak muda Bukittinggi . Lewat karya berjudul “anak lem” Makben dan ERWEJE menampilkan visual fenomena mabuk lem dengan cukup gamblang. Walaupun kedua kelompok ini mengakui riset tentang “mabuk lem” yang mereka lakukan tidak begitu dalam, namun cukup memenuhi porsi kebutuhan karya ditambah penggarapan karya yang sesuai kebutuhan pula.

Kolaborasi yang dihadirkan ZERCO dan FMR memaparkan temuan mereka tentang penyebab banjir yang terjadi di Gurun Panjang, Bukittinggi beberapa waktu yang lalu. Dengan visualisasi ilustrasi, kaligrafi, dan handlettering, kelompok ini mengusung sampah sebagai penyebab utama banjir yang menyumbat drainase. Karya ini seperti mengandung pesan-pesan kebaikan tentang pengelolaan sampah. Lebih ke permukaan lagi, karya Iqbal memaparkan wacana lain tentang kebersihan kota Bukittinggi dengan memilih perosalan yang mewakili masalah kebersihan itu, yaitu puntung rokok. Yang disayangkan adalah ketertarikan Iqbal pada wacana yang sangat umum ini tidak secara unik dan khusus menampilkan eksistensi Kota Bukittinggi itu.

Karya selanjutnya merespon wacana kebersihan dengan cara yang cukup berbeda. Dengan menawarkan alternatif pengganti plastik yaitu totebag reusable untuk mengurangi sampah plastik, kedua pelaku industri kreatif Cikiak dan Vella terang-terangan mempromosikan produk mereka dengan mengusung brand tertentu. Sebenarnya ini mewakili kelafaan penyelenggara yang cukup fatal, karena karya yang dibawakan kelompok ini sudah selesai sejak awal pelaksanaan. Tentu saja tidak sesuai dengan harapan penyelenggara sejak awal tentang tujuan pelaksanaan Takjilart sendiri.

Karya instalasi dari kelompok BDX dan BARATI mengusung permasalahan minimnya ruang dan dukungan pemerintah terhadap aktifitas kreatif di Bukittinggi. Permasalahan ini diusungkan setelah membaca perkembangan muncul dan hilangnya beberapa ruang kreatif di kota Bukittinggi sejak dulu. Sejalan dengan itu, karya instalasi dari Farel mempertanyakan sesuatu yang dapat meransangan kreatifitas remaja di Bukittinggi yang dinilai “mampet” disebabkan hal-hal seperti game.

Yang menjadi catatan baik di sini adalah, catatan-catatan observasi yang turut ditampilkan disamping karya ternyata memberikan kejutan-kejutan kecil dengan fakta tentang Kota Bukittinggi. Fakta-fakta temuan seniman tentang beberapa hal di kota ini memancing keingintahuan kita untuk menelusuri kompleksitas eksistensi Bukittinggi, kota kecil yang dingin ini lebih jauh lagi. Sebenarnya output kegiatan ini akan sangat menarik dan jika digarap dengan perancangan dan persiapan yang lebih matang. Kegiatan ini tidak mungkin hanya selesai dan lepas sebagai euforia tanpa pembelajaran dari kealfaan-kealfaan yang terjadi. Sebagai komunitas yang mendukung pengembangan seni dan budaya Ladang Rupa harus terus berkembang dan belajar. –

Ada Apa dengan Poster (Analisi Visual Poster Pengabdi Setan 1982)

Visualisasi Poster

Poster merupakan salah satu media publikasi yang terdiri atas gambar, teks, atau gabungan antara teks dan gambar, dengan tujuan memberi informasi pada khalayak ramai. Poster juga digunakan untuk mempromosikan sebuah film. Poster film terdiri dari gambar dan teks. Seperti poster film Pengabdi Setan garapan sutradara Sisworo Gautama Putra, tahun 1982, yang menjadi media publikasi tentang sebuah film bergenre horor.

Seperti pada umumnya sebuah poster, pada poster film Pengabdi Setan tahun 1982, diisi dengan teks dan gambar. Teks yang dihadirkan dalam poster ini berupa judul film, nama sutradara, nama perusahaan produksi,  nama para pemain, serta beberapa teks yang berasal dari dialog yang ada dalam film. Gambar yang digunakan dalam poster film ini pun, merupakan gambar yang diambil dari beberapa adegan dalam film Pengabdi Setan sendiri. Ada empat gambar yang dihadirkan dalam poster ini, yaitu gambar sosok-sosok hantu, kuburan dengan setengah badan manusia di atasnya, wajah wanita terkejut, dan gambar wanita dengan pakaian tidur.

Jika dilihat secara visual, poster film Pengabdi Setan tahun 1982 cocok dengan genre filmnya sendiri. Font judul, begitu juga gambar yang digunakan memberi penjelasan bahwa film Pengabdi Setan merupakan film horor begitupun pemilihan warna yang digunakan dalam poster ini. Penggunaan warna merah pada font judul, dan hitam pada background memberi kesan mistis yang kental pada poster film ini.  Secara umum, warna merah melambangkan bentuk energi, dan secara psikologis warna merah memberi efek memacu debar jantung. Begitu juga dengan warna hitam yang secara umum melambangkan kematian, memberi kesam suram, dan menakutkan.

Jika dilihat dari elemen-elemen pada poster Pengabdi Setan tersebut, terdapat kecenderungan pemakaian warna-warna yang baku, seperti merah, hitam, kuning, dan biru.  Selain itu, penggunaan gambar yang merupakan bagian dari adegan film merupakan bentuk baru dari poster film tahun 80-an. Dibandingkan poster tahun 60an dan 70an yang masih menggunakan ilustrasi manual, poster film 80-an sudah mengambil potongan adegan dalam film yang kemudian dijadikan elemen visual pada poster. Hal ini berkaitan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti yang dikatakan olah Sorcha Ni Fhlainn, pakar sinema kontemporer dari Manchester Metropolitan University, bahwa dekade 1980-an adalah detik-detik menjelang ajal segala sentuhan analog yang kemudian tewas dimakan revolusi teknologi.

Sejarah dalam Poster

Poster Film sebagai media publikasi film, tentu mencerminkan bagaimana perkembangan film itu sendiri.  Jika dilihat dari gambar pada poster, terdapat gambar wanita yang menggunakan baju tidur dengan rok yang sedikit terbuka, itu artinya, film Pengabdi Setan walau pun film bergenre horor, namun film ini berisi konten sensualitas. Jika adegan sensualitas menjadi salah satu elemen dalam poster, menandakan bahwa konten sensual juga menjadi hal penting dalam film, yang berarti bahwa film-film Indonesia pada 1980-an dipenuhi dengan konten-konten sensual. Menurut Joko Anwar, salah seorang sutradara Indonesia, film-film Indonesia pada masa orde baru dipenuhi dengan genre horor, dan laga, di mana produksi film menggabungkan kekejaman di hampir semua scene, serta visual imaginatif. Pada rezim tersebut, sangat susah membuat film bernada serius, apalagi menyangkut politik. Akhirnya para produser film pun membuat film genre, karena film seperti itu tidak disensor secara ketat. Maka dari itu muncul film yang menampilkan kekejaman serta tampilan yang menjurus pada sensualitas.

Selain itu menurut Gope Samtani pendiri Studio Rapi Film, menyatakan bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia percaya pada hal-hal gaib dan mistis, karena itu film bergenre horor mendapat tempat di masyarakat saat itu.

Poster sebagai Tanda

Seperti yang telah ditulis di atas, bahwa poster film ini merupakan bentuk baru dari poster-poster film yang ada pada era perfilman Indonesia sebelumnya. Dengan begitu, berarti poster film Pengabdi Setan ini tentu membawa tanda-tanda baru secara semiotik. Dengan adanya tanda-tanda baru, tentu juga ada makna-makna baru yang hadir di tengah masyarakat. Sebagaimana yang diterangkan Barthes, bahwa semiotik merupakan sistem tanda yang menyatu pada sebuah sistem makna.

Maka karena itu, poster dapat dikatakan sebagai sebuah sistem tanda. Pada poster film Pengabdi Setan yang cenderung menonjolkan sisi sensualitasnya, padahal film tersebut bergenre horor, tentu mempunyai maksud sistem tanda tersendiri.

Dari keempat potongan scene film pada poster tersebut, dapat dikatakan bahwa figur perempuan lebih mendominasi isi poster film Pengabdi Setan. Perempuan pada poster ini sudah dapat dikatakan sebagai tanda secara semiotik yang tentu membentuk sistem makna. Sistem makna yang dapat ditangkap adalah sensualitas. Figur perempuan pada poster tersebut  merepresentasikan “setan” itu sendiri sebagaimana tajuk film ini. Figur perempuan yang dihadirkan dalam poster Pengabdi Setan baik yang berperan menjadi hantu ataupun tidak, sama sekali tidak menggambarkan sosok yang  “menyeramkan” atau begitu menakutkan. Namun yang ditonjolkan malah sisi sensualitas perempuan itu sendiri,  yang berarti kenikmatan atau surga dunia.

Lalu siapa yang menikmati? Tentu adalah “pengabdi” sebagaimana judul filmnya Pengabdi Setan. Lantas bagaimana menemukan penanda “pengabdi” itu? Poster film ini telah memberikan tanda secara semiotik, bahwa kehadiran sosok perempuan sebagai tanda yang merepresentasikan “setan” yang menjadi penanda akan sensualitas. Berdasarkan itu, tentu, “pengabdi” ditandai dari oposisi biner akan perempuan itu sendiri, yakni laki-laki. Laki-laki menjadi tanda representasi “pengabdi” pada film “Pengabdi Setan” ini, yang tentu saja peran tanda ini akan diperkuat pada isi film Pengabdi Setan ini.

Berdasarkan hal tersebut, berarti, poster film telah membentuk sistem makna sebagai penanda bahwa, laki-laki menjadi penikmat, dalam film ini dibahasakan sebagai pengabdi, perempuan.  Tentu saja apa yang dinikmati laki-laki, tidak lain, hanya sisi sensualitas dari perempuan, yang tentu saja adalah seks. Walau pun, seks itu sendiri, sebagaimana pada film ini telah diberi penanda sebagai “setan” itu sendiri.

Pada poster film Pengabdi Setan ini, dapat dikatakan bahwa perfilman Indonesia saat itu sangat dipengaruhi oleh keadaan pemerintahan, dimana saat itu film-film Indonesia diisi dengan konten-konten sensual. Hal tersebut tampak pada visual-visual yang mulcul dalam poster film-film Indonsedia, salah satunya poster film Pengabdi Setan. Selain itu, poster ini juga  menyampaikan sistem maknanya pada masyarakat, bahwa film Pengabdi Setan yang meskipun bergenre horor namun capaiannya adalah sensualitas dihadirkan melalui figur perempuan untuk dinikmati oleh laki-laki.asdff.jpg

Catatan Pemutaran Film dan Diskusi Film Istirahatkanlah Kata-Kata

Shelter Utara, Siteba

Jumat, 16 Februari 2018.

Pemutaran film Istirahatkanlah Kata-Kata karya Yosep Anggi Noen berkisah tentang Wiji Thukul, seorang tokoh yang fenomenal sebagai seniman dan aktivis yang menentang rezim orde baru. Berbeda degan film-film biopar lainnya seperti film Soekarno, R.A Kartini, atau yang lainnya, film ini mengambil bagian kecil kehidupan Wiji Thukul yang ternyata adalah konflik besar dalam hidupnya. Film ini bercerita masa dimana Wiji Thukul menjadi seorang buronan dan dalam masa pelarian ke Pontianak. Ia menjadi incaran rezim Soeharto karna gerakan dan tulisan-tulisannya. Hanya saja, film ini sepenuhnya menghadirkan sosok Wiji Thukul yang tertekan dan penuh kecemasan. Ketertekanan  yang dihadirkan terlihat jelas pada visual-visual dalam film ini. Pengambilan long take, pergerakan kamera yang lambat, blocking yang mendominasi film, pembangunan suasana dan pembangunan karakter yang semakin menguakan keadaan batin yang terterkan.

Menggambil cerita tentang seorang tokoh bukanlah hal mudah. Tapi pemilihan plot cerita tertentu tentang kehidupan seseorang tentu sesuatu yang lumrah dalam penggarapan sebuah karya seni. Hal tersebut berkaitan dengan apa yang ingin dihadirkan, dan disampaikan oleh sebuah  film.

Setelah pemutaran selesai, maka diteruskan dengan sesi diskusi. Film ini mendapat berbagai tanggapan dari para penonton yang kebanyakan adalah aktivis dan pembaca sejarah. Beberapa penonton mengatakan bahwa film ini di luar ekspektasi mereka tentang sosok seorang Wiji Thukul.  Ada juga asumsi yang mengatakan bahwa film ini menjadi fatal karena pemilihan latar, kurangnya pendalaman karakter sorang Wiji Thukul, serta beberapa ketimpangan realitas yang tampak dari film ini. Selain itu juga ada pendapat yang menyatakan bahwa film ini nonsense dan cerita terkesan fiksi, karena dari awal film yang hadir bukanlah Wiji Thukul, tapi tokoh yang bernama Paul, dan nama Wiji Thukul hanya hadir ketika ia bertemu istrinya.

Film ini bukanlah jawaban dari bagaimana sosok Wiji Thukul sebenarnya, namun film ini menjadi pemicu untuk mencari tahu lagi tentang sosok Wiji Thukul si penulis puisi Istirahatkanlah Kata-Kata tersebut. Di luar perdebatan tentang Wiji Thukul itu sendiri, menurut saya, sebagai sebuah karya seni, film ini dapat dikatakan berhasil, karena film ini mampu menghadirkan wacana baru yang tentunya dapat dikembangkan lebih luas lagi. Layaknya sebuah karya seni yang memberi seribu pintu representasi, film ini sukses memberi ruang pada penonton untuk memperluas wacana dan menyimpulkan sendiri.

 

*dimuat di buletin Himpunan Mahasiswa Seni Rupa Universitas Negeri Padang Edisi #4 Februari 2018

anggy rusidi

Menapaki Jejak Pemikiran Oesman Effendi

Beberapa waktu yang lalu, cukup lama stencil wajah Oesman Effendi beserta pelukis Nashar dan Bapak Ady Rosa berukuran 5 x 3,5 meter menghiasi dinding depan gedung baru Jurusan Seni Rupa UNP. Stencil ini dibuat dalam rangka pameran kelompok Jembatan Pelangi bertajuk “Pahlawan” pada bulan Oktober 2015 di Galeri RAS. Oesman Effendi oleh kelompok Jembatan Pelangi dalam karya pra-event ini didapuk sebagai “Pelopor Kesenian Modern Indonesia”. Mungkin beberapa dari kita masih bertanya-tanya tentang Oesman Effendi, pelukis kontroversial yang lahir di Padang itu. Benarkan Oesman Effendi pelopor kesenian modern Indonesia?

pgbtz
Kelompok Jembatan Pelangi di depan karya Stencil wajah Oesman Effendi, Ady Rosa, dan Nashar. Foto : rumahadaseni.com

 

Sejak sebelum dan setelah kemerdekaan Indonesia, keberadaan seni rupa modern Indonesia serta perkara identitas Indonesia sebagai akibat hubungannya dengan bangsa barat telah ramai dibincangkan oleh kalangan pelukis. Setelah corak Mooi Indie, kemunculan PERSAGI secara kritis dan visioner mendefenisikan sikap serta dasar-dasar pembentukan seni lukis Indonesia. Tokoh PERSAGI yang cukup vokal mengarak arah seni lukis Indonesia ialah S. Sudjojono, pelukis yang mengusung konsep  jiwa ketok, sebuah istilah dalam bahasa jawa yang bermakna ‘jiwa tampak’. Konsep jiwa ketok menjadi kritik bagi para pelukis Mooi Indie bahwa corak lukisan yang hanya memperlihatkan pesona keelokan Indonesia itu hanyalah ‘persembunyian’ pelukis dari kenyataan yang sesungguhnya dihadapi masyarakat. Soedjojono dinobatkan sebagai bapak seni lukis modern Indonesia, sang pelopor modernisme seni di Indonesia.  Trisno Sumardjo menyebut Soedjojono adalah tokoh yang giat memahamkan hakikat seni, orang pertama di Indonesia yang membuka halaman baru dalam sejarah seni lukis Indonesia.

Suatu ketika, dalam rentang perbincangan seni lukis modern itu, tepatnya dalam sebuah diskusi 27 Agustus 1969, Oesman Effendi mengajukan sebuah statement provokatif. OE, demikian beliau akrab disapa, menyatakan bahwa seni lukis Indonesia belum ada, karena belum ada “cap” Indonesia yang berciri nasional. Pendapatnya didasari penghayatan bahwa seni lukis Indonesia tidak berpijak pada akar kebudayaan Indonesia, kebudayaan yang tumbuh di kampung-kampung. Tak pelak pernyataan itu menimbulkan perdebatan panjang yang tak berkesudahan di kalangan pelukis saat itu, termasuk S. Sudjojono. “Itu omong kosong!” ucap sang bapak seni lukis modern. “Kalau ada pelukis Indonesia, ada hasil karya mereka, ada istilah-istilahnya dan pelukis Indonesia pun memiliki kedudukan sosial yang cukup terhormat, berarti kehidupan seni lukis Indonesia telah ada. Maka bagaimana orang bisa mengatakan seni lukis Indonesia itu tidak ada?”

Adu argumen antara Soedjojono dan Oesman Effendi menimbulkan polemik di Koran Kompas pada awal 70-an. Begitupun pembahasan panas antar para pelukis dan kritikus di surat kabar dan majalah lainnya. Walaupun bukanlah yang pertama kali membahas fenomena modernisme Indonesia, OE dianggap pemicu perdebatan tentang ada tidaknya seni lukis modern Indonesia itu.

oeoeoe
koleksi arsip ivaa-online.org

Dalam makalah Diskusi Pesta Seni Jakarta II Dewan Kesenian Jakarta 1 – 10 November 1969, OE menulis, “Seni lukis Indonesia adalah yang diciptakan oleh pelukis Indonesia yang bertolak dari ilmu lukis Barat atau Modern di abad ke-20. Seni lukis Indonesia itu mesti diukur dengan ukuran yang dipakai dalam dunia Internasional. Pengaruh sifat dari air, bumi, iklim dan alam kepulauan Indonesia yang membentuk corak dan arah dari seni dan kebudayaan penduduknya, sama halnya dengan bentuk dan dasar serta politik Republik Indonesia”. OE menyatakan bahwa yang dilakukan pelukis Indonesia hanya meniru apa yang telah dilakukan pelukis Barat tanpa adanya cap atau identitas yang  menandai kepribadian pelukis. “Cap itu dengan sendirinya akan diperoleh kalau seorang seniman penuh tekun dan intens mencipta menurut panggilan jiwanya yang murni. Saya percaya bumi dan alam Indonesia akan mempengaruhi corak seninya. Seni lukis di Indonesia sedang tumbuh, belum ada, ia baru dalam proses mencari untuk menemukan bentuk khasnya.”

Perdebatan yang dipicu oleh pernyataan OE menjadi semakin kronis dan mencapai puncaknya di tahun 80-an. Pernyataan itu menjadi semacam sindrom yang menghantui pikiran para pengamat seni dalam diskusi-diskusi, bahkan hingga saat ini. Jangan-jangan OE benar?

Gejala yang timbul sejak dekade 80-an menunjukkan upaya seniman melakukan ekspolari keunikan personal sebagai identitas artistiknya dengan modal latarbelakang sosial, budaya, dsb. Gejala ini dimulai oleh  ‘Pernyataan Desember Hitam’ tahun 1974 yang menentang keajegan dalam dalam sistem pendidikan seni yang dirasakan mengekang kebebasan untuk bereksperimen. Gugatan itu kemudian disusul oleh Gerakan Seni Rupa Baru yang berusaha meniadakan batas tajam antara lukisan, grafis, dan patung sebagaimana tradisi yang diwariskan seni rupa Barat.  Menurut Diyanto, pergeseran paradigma estetik  tersebut disertai pencarian identitas ke-Indonesia-an ramai kembali di tahun 80-an dan menjadi tantangan bagi perupa generasi berikutnya, antara lain Eddy Hara, Nindityo, Heri Dono, Agung Kurniawan, Hanura Hosea, S. Tedy D, Ugo Untoro, dan beberapa nama lain. Nama-nama itu muncul dalam pameran Biennale IX tahun 1993, sebagaimana dituliskan Jim Supangkat merupakan generasi perupa pasca pemberontakan, yang tidak lagi menentang modernisme sebagaimana dilakukan generasi 70-an, melainkan meninggalkannya. Pameran ini sering disebut penanda perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia dengan loncatan ke arah perubahan besar, sebuah seni rupa yang meninggalkan batas-batas konvensional yang selama ini dirasa mengekang kreativitas seniman.

Tampaknya wacana Identitas menjadi sangat krusial dalam khasanah seni kontemporer ini. Menurut Diyanto, gelombang perubahan pada 90-an tercermin langsung melalui frekuensi pameran lintas negara yang meningkat dengan wacana pencarian identitas baru seni rupa Indonesia sebagai seni rupa non-Barat. Sementara Enin supriyatno mencatat formulasi isu mengenai identitas untuk memahami beragamnya fenomena seni kontemporer di berbagai negara dan bangsa, tengah ribut diusahakan oleh seniman, kurator dan profesional seni  dengan cepatnya perubahan dalam arah pendekatan akhir abad 20 yang tak terduga ini.

Terlepas dari konteks waktu dulu atau kini, barangkali upaya penggalian identitas artistik yang dilakukan seniman-seniman pasca pemberontakan itu, adalah proses yang ideal berdasarkan pemikiran OE pada zamannya.  Jangan-jangan, OE telah menduga konsep-konsep yang ‘mengatur’ seniman pada masa perintisan seni lukis Indonesia  seperti jiwa ketok, akan berakhir? Apakah OE telah memperkirakan era yang kita sebut kontemporer?

Satu gejala lagi yang menonjol  dalam praktik seni kontemporer ini, yaitu perkembangan pasar dan dominasi kolektor dalam praktik artistik seniman. Tidak jarang perupa menggantungkan idealisme kontemporernya pada selera kolektor. Tentang hal kejujuran, OE pernah mengatakan bahwa pelukis Indonesia jorok, karena tidak adanya sikap yang tegas yang mampu memilih melalui proses pemikiran yang mendalam terhadap nilai. Bagi OE, kejujuran akan melahirkan tanda-tanda kepribadian yang harus dibentuk dalam diri seniman. Perjuangan dalam seni lukis harus bersih dari sifat jiwa dan tindakan serba rendah dan kotor. Barangkali inilah alasan OE memutuskan untuk tidak menjual karya-karyanya. Ketika OE seharusnya menjadi panutan keorisinilan, kini malah banyak perupa yang menjajakan idealismenya ke pangkuan kolektor.

Tentang Oesman Effendi

220px-Oesman_Effendi

Oesman Effendi ialah seorang tokoh seni lukis Indonesia kelahiran Padang, 28 Desember 1919 yang berasal dari Koto Gadang, Sumatera Barat.  OE merantau ke Jakarta dan melanjutkan sekolah di teknik sipil Konningen Wilhelmina School, tahun 1934 – 1939. Walaupun tidak pernah mendapatkan pendidikan seni secara formal, dengan bakat melukisnya OE telah memenangkan beberapa kali lomba desain seperti sanyembara lambang Exlibris, Perpustakaan Batavia Kunstkring, dan rancangan piagam olahraga Pemerintah Kolonial Belanda. OE jugalah yang merancang lambang BMKN (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional), dan  logo “Cipta” Dewan Kesenian Jakarta yang masih digunakaan hingga saat ini. Tahun 1951, Bank Indonesia mengutus OE ke Belanda untuk merancang  mata uang Republik yang pertama, yaitu Oeang Republik Indonesia (ORI) pecahan Rp 50,-.  Tahun 1961 OE memperoleh penghargaan untuk karya-karya seni grafisnya dari Academia della Arte El Disegno, Italia dan sejumlah pengharaan lainnya.

Sejak tahun 1943 OE sudah mulai menulis tentang seni rupa untuk Kantor Berita Pendudukan Jepang, Domei, dan beberapa majalah dan surat kabar di Jakarta. Di masa ini OE banyak membuat kopian hitam-putih karya-karya Michaelangelo, Rembrant, Cezzane dan Flash Gordon. Bisa dibilang, pengalaman melukis serta pengetahuan dan sejarah seni didapatkan OE secara otodidak. Hingga pada tahun 1947, OE bergabung dengan SIM (Seniman Indonesia Muda) pimpinan S. Soedjojono di Solo dan mulai belajar melukis dengan sungguh-sungguh.

Selain melukis, OE juga dikenal sebagai organisator yang baik. Tahun 1968, OE menjadi salah satu pendiri Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM) bersama Trisno Sumadjo, Dewan Kesenian Jakarta dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta  (sekarang Institut Kesenian Jakarta). OE juga mengajar seni rupa di  Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanegara (1970 – 1971).

OE adalah pelukis abstrak yang memiliki keistimewaan pada penguatan spiritual dan kedalaman jiwa yang khas dengan meletakkan tasawuf sebagi dasar dalam berkarya seni. Dalam karyanya OE banyak menampilkan bentuk-bentuk irama alam yang ia olah melalui suatu pengalaman trasedental. Selama karirnya OE telah menggelar sekitar sepuluh kali pameran tunggal dan mengikuti beberapa kali pameran bersama di dalam dan luar negeri.

Tahun 1972 OE balik mudik ke kampung halamannya, Koto Gadang, dengan alasan memelihara integritas terhadap orang banyak yang dianggapnya sebagai cara untuk mendidik dirinya menjadi manusia yang utuh. Selama di kampung, OE melakukan dakwah umum dalam segala bidang dan menyusun ensiklopedi tentang Koto Gadang.  Disamping itu, OE tetap meneruskan kegiatan melukisnya. OE juga mendirikan sebuah gedung pusat kesenian di Koto Gadang yang masih berdiri hingga saat ini.

OE meninggal di usianya yang ke 66 pada tahun 1985 dikarenakan sakit. Dengan statemen-statementnya yang kontroversial, tokoh seni rupa Minang ini telah menjadi bagian besar dalam perbincangan seni lukis masa perintisan seni rupa modern Indonesia. Dengan kekuatannya sendiri wacana OE hadir sebagai antitesis dari konsep-konsep seni lukis yang diusung Soedjojono. OE dengan buah-buah pemikirannya telah membawa nama orang Minang ke tempat yang lebih dipertimbangkan.-

Hidayatul Azmi

WAKIRI : MENYULUT KEMBALI SEMANGAT WAKIDI

Kandang Studio bekerjasama dengan Rumah Coretan menggelar pameran seni, 10 hingga 17 Januari 2018 di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat. Pameran ini menggelar 33 karya seni yang disatukan dalam tajuk “Wakiri”. Selanjutnya tanggal 14 Januari diadakan diskusi dalam rangkaian kegiatan pameran Wakiri yang mengangkat tema “Minangkabau Modern Art”. Diskusi ini menghadirkan dua orang pembicara, yaitu penulis Nessya Fitriyona dan seniman Syahrial Yayan, beserta moderator Yusuf Fadli Aser.

IMG20180110192752
Suasana pameran Wakiri, 10 Januari 2018 di Taman Budaya Sumatera Barat

Wakiri merupakan bentuk pergerakan pelanjut cita-cita Wakidi, seniman yang telah menanamkan seni rupa modern di ranah Minang. “Wakiri kan’ adiak-adiaknyo wakidi. Kalau masih tetap Wakidi kan tidak mungkin. Zaman dan tantangannya sudah beda, tidak mungkin kecenderungan karya sama” demikian pemaparan Jasjus sebagai salah satu penggagas konsep Wakiri. Yang membedakan Wakidi dulu dan kini adalah konsep berpikirnya.

Jasjus menegaskan Wakiri bukanlah suatu bentuk protes terhadap Wakidi. “Kiri” bukan melulu berarti perlawanan. Wakiri diselenggarakan untuk mengangkat kembali semangat Wakidi agar kita dapat lebih menghargai sejarah kita. Jika institusi hanya mengajarkan sejarah seni rupa Indonesia, bukan tidak mungkin generasi muda hanya akan mengerti sejarah seni rupa yang berkembang di jawa. “Apa jadinya generasi muda tidak diceritakan soal wakiri dan sejarah seni rupa Sumatera Barat? Bukan rasis, tapi kenyataan kan?” tambah Jasjus.

IMG20180110200739
Seorang pengunjung sedang melihat karya-karya di pameran Wakiri

Bagi Alex Fittra, yang juga salah satu penggagas konsep Wakiri, Wakidi adalah salah satu legend di Sumatera Barat. Beliau senang melukis landscape. Pemandangan alam Sumatera yang indah seperti Ngarai Sianok terabadikan dalam kanvasnya. Bersama rentang waktu yang semakin panjang, alam telah mengalami perbahan-perubahan. Alam yang kita lihat sekarang berbeda dengan yang dilihat Wakidi. Maka seniman-seniman muda sekarang tidak lagi berbicara tentang alamnya, tapi fenomena yang terjadi di atasnya seperti modernitas. Jika dulu sedikit korupsi, sekarang sudah banyak. Dulu tidak ada sosial media, kini telah jadi bagian penting dalam keseharian kita. Kebanyakan ide-ide muncul dari pengembangan atas fenomena-fenomena seperti itu. Wakiri hadir dengan merespon pola pikir Wakidi dengan gaya yang sekarang.

IMG20180110193515
ERLANGGA, Untitled, cat akrilik di atas kanvas, 80 x 100 cm

Dalam pameran ini hadir pula karya Erlangga, lukisan untitled berukuran 80×100 cm. Lewat lukisannya Erlangga bercerita tentang bagaimana semangat generasi perupa di zaman kini sama dengan semangat wakidi di zamannya berkarya. Bagi Erlangga, Wakiri adalah motivasi dan  semangat berkarya Wakidi, dan tentang  bagaimana kita menjadi Wakidi di zaman ini, yang semangat berkarya, tidak memikirkan apakah karya akan terjual, dsb.

Kandang Studio merupakan ruang berkarya yang terbuka bagi seniman dan penggiat seni. Saat ini Kandang Studio juga berfokus pada pengarsipan karya dan aktifitas seniman khususnya di Sumatera Barat. Rumah Coretan adalah kelompok seni yang digagas beberapa seniman dan mahasiswa jurusan Seni Rupa yang aktif berkarya di studio mereka di Air Tawar Barat, Padang. (ami)

 

OTAFEST 2017

LADANG RUPA MEPERSEMBAHKAN

OTAFEST 2017

11 – 13 Agustus 2017

Di Monyet Ngarai

Jalan Binuang Kel. Kayu Kubu, Kec. Guguak Panjang, Bukittinggi (Ngarai Sampik)

Pembukaan :

Jumat, 11 Agustus 2017 pukul 15.00

OTAFEST merupakan sebuah program berbentuk camp yang diikuti seniman, pelaku, dan pengiat seni dan budaya untuk menciptakan peluang terjadinya obrolan yang intens dalam suasana yang akrab dan menyenangkan selama tiga hari yang mampu melahirkan ide-ide dan gagasan baru demi perkembangan kesenian dan kebudayaan. Camp ini dikemas dalam bentuk festival seni yang menawarkan berbagai hiburan akhir pekan yang menyenangkan dan edukatif di tengah alam.

Konten:

Screening film, 11 Agustus 2017 oleh Bioskop Taman yang akan memutarkan demo film dalam sebuah ruangan mulai pukul 16.30 WIB

Workshop

Sesi I : Hand Lettering Workshop bersama Adi Zerco (seniman, designer) pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 pukul 9.00 – 12.00 WIB

Sesi II : Stone Painting  Workshop bersama Kapten Moed (seniman, crafter) pada hari Minggu, 13 Agustus 2017 pukul  8.30 – 10.30 WIB

Talks

Sesi I : Sabtu, 12 Agustus 2017 pukul 13.00 – 15.00 WIB.

Music Sharing dengan tema “ Ide, Kreasi, dan Apresiasi” bersama Edi Elmitos (Music Composer), Banx banx (Music Event Organizer), dan Rifki Fauzan (Musisi). Moderator: Niko Fernando.

Sesi II : Minggu, 13 Agustus 2017 pukul 10.30 – 12.30 WIB

Kuliah umum “Dasar –dasar Kritik Seni” sekaligus bedah karya seniman komisi, bersama Ahmad Solihin (praktisi dan akademisi seni rupa). Moderator : Restika Nurdelia S.

Sesi III : Minggu, 13 Agustus 2017 pukul 13.00 – 15.00 WIB

Diskusi seni “Mencari Posisi Sumbar dalam Peta Seni Rupa Indonesia” bersama Ibrahim (praktisi dan kurator seni rupa). Moderator : Hidayatul Azmi

ART & MUSIC PERFORMANCE

Sabtu, 12 Agustus 2017 pukul 15.00 – 22.00

menampilkan Brown Sugar, Bulu Baji, Lado Merah, Senang, Diorama, Hototo, Tambua Tasa : Saraso X IPPJ , Antarkita Pantomime, dan Performance Art oleh Kadu (Sastra Hadi Kusuma)

OTAFEST kali ini juga membuka program Commission Artist yang mengundang tiga orang perupa Sumatera Barat, Alex Fitra, Sastra Hadi Kusuma, dan Adi Zerco yang melakukan proses berkarya di lokasi camp mulai tanggal 6 Agustus 2017.

Selain itu OTAFEST juga membuka program Volunteer bagi partisipan yang ingin mensukseskan kegiatan OTAFEST yang mendapatkan serangkaian training sebelum dan selama kegiatan berlangsung.

Info lebih lanjut : 085376293927 (Riyan)

pamplet anu

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑